Jumat, 22 April 2011

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Anak dengan kebutuhan khusus (special needs children) dapat diartikan secara simpel sebagai anak yang lambat (slow) atau mangalami gangguan (retarded) yang tidak akan pernah berhasil di sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya. Banyak istilah yang dipergunakan sebagai variasi dari kebutuhan khusus, seperti disability, impairment, dan Handicap. 
  1. Disability : keterbatasan atau kurangnya kemampuan (yang dihasilkan dari impairment) dalam batasan normal
  2. Impairment: kehilangan atau ketidaknormalan dalam hal psikologis, atau struktur anatomi atau fungsinya, biasanya digunakan pada level organ.
  3. Handicap : Ketidak beruntungan individu yang dihasilkan dari impairment atau disability yang membatasi atau menghambat pemenuhan peran yang normal pada individu.


Layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia disediakan melalui tiga macam lembaga pendidikan yaitu, Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), dan Pendidikan Terpadu. SLB, sebagai lembaga pendidikan khusus tertua, menampung anak dengan jenis kelainan yang sama sehingga ada SLB untuk anak dengan hambatan penglihatan (Tunanetra), SLB untuk anak dengan hambatan pendengaran (Tunarungu), SLB untuk anak dengan hambatan berpikir/kecerdasan (Tunagrahita), SLB untuk anak dengan hambatan (fisik dan motorik (Tunadaksa), SLB untuk anak dengan hambatan emosi dan perilaku (Tunalaras), dan SLB untuk anak dengan hambatan majemuk (Tunaganda). Sedangkan SDLB menampung berbagai jenis anak berkebutuhan khusus. Sementara itu pendidikan terpadu adalah sekolah reguler yang juga menampung anak berkebutuhan khusus, dengan kurikulum, guru, sarana pengajaran, dan kegiatan belajar mengajar yang sama. Namun selama ini baru sedikit sekolah yang mau menampung anak berkebutuhan khusus. Sebagian besar yang lain masih menolak dan keberatan menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah regular (umum).

Disini, saya akan membahas salah satu contoh disability, contohnya adalah disleksia (learning disability). Disleksia adalah penurunan kemampuan otak untuk menerjemahkan gambar tertulis yang diterima dari mata ke dalam bahasa yang bermakna dan merupakan ketidakmampuan belajar yang paling umum terjadi pada anak-anak.  Disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis dan ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat atau akurat dalam pengejaan dan dalam mengode simbol. Terdapat dua macam disleksia, yaitu : 
  1. developmental dyslexia : bawaan lahir karena faktor genetis atau keturunan. Penyandang disleksia akan membawa kelainan ini seumur hidupnya atau tidak dapat disembuhkan. Tetapi, anak-anak tersebut memiliki tingkat kecerdasan normal atau bahkan diatas rata-rata.
  2. acquired dyslexia itu awalnya individu normal, tetapi menjelang dewasa mengalami cedera otak sebelah kiri dan bisa menyebabkannya menjadi disleksia


Beberapa masalah yang dialami oleh penyandang disleksia :
  1. Masalah fonologi : berhubungan dengan huruf dan bunyi. Misalkan, mereka sulit membedakan "paku" dan "palu". Hal ini bukan disebabkan oleh masalah pendengaran melainkan berkaitan dengan proses pengolahan/input dalam otak.
  2. Mengingat perkataan
  3. Penyusunan yang sistematis atau berurutan
  4. masalah dengan ingatan jangka pendek
  5. Pemahaman sintaks : kebingungan dalam memahami tata bahasa, terutama jika dalam waktu yang bersamaan mereka menggunakan dua atau lebih bahasa yang memiliki tata bahasa yang berbeda. Misal, dalam bahasa indonesia : tas merah --> red bag (bahasa inggris)
Sekolah inklusi adalah sekolah yang menerapkan beberapa kurikulum yang disesuaikan dengan keadaan anak. Sehingga menurut saya, seorang anak penyandang disleksia seperti yang telah dijelaskan diatas memiliki kecerdasan normal ataupun mungkin diatas rata-rata, sehingga jika mereka dimasukkan ke SLB mereka akan frustasi dan keadaan itu bukannya memperbaik keadaan melainkan sebaliknya. Jika anak tersebut di masukkan ke sekolah biasa dengan sistem inklusi, mereka dapat berinteraksi dengan anak-anak normal lainnya, mereka belajar menyesuaikan diri dan setelah lulus sekolah nantinya mereka telah siap bekerja dalam ruang lingkup sosial. Dengan berinteraksi dengan anak normal lainnya, hal ini tentu saja dapat memotivasi diri untuk menjadi lebih baik dan dapat menjadi seperti anak-anak lainnya, walaupun ada keterbatasan dalam diri mereka itu. Mereka hanya membutuhkan waktu lebih dengan kemampuan normal, misalnya jika anak normal memerlukan waktu setengah jam untuk menyelesaikan tugas, anak disleksia memerlukan waktu lebih banyak mungkin 45 menit sampai 1 jam untuk menyelesaikannya. Tetapi, keahlian anak disleksia tetap ada, mereka juga memiliki bakat yang jika diasah, juga dapat menghasilkan anak yang luar biasa..

Referensi :

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)

Pendidikan anak usia dini (PAUD) di Indonesia ini masih sangat kurang jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya yang berusaha mengembangkan potensi anak sejak masih kecil atau dalam masa-masa golden age mereka. Pada masa tersebut seorang anak harus dipersiapkan “wadah” yang mampu untuk menampung setiap materi, ilmu atau pemikiran dengan mumpuni baik secara jasmani, mental maupun pikirannya dengan semaksimal mungkin untuk menghadapi setiap persoalannya di masa yang akan datang dalam hidupnya kelak.
Mungkin masyarakat Indonesia bahkan pemerintah kurang memperhatikan anak-anak yang berusia 0-6 tahun, padahal sebenarnya mereka merupakan bibit-bibit yang sangat berkualitas jika telah diperhatikan sejak usia dini-nya. 
Setiap anak mempunyai potensi yang unik sejak ia lahir baik secara fisik (jasmani) maupun non-fisik (hati, akal, dsb), dan kuncinya adalah ketika anak tersebut berumur 0-6 tahun. Pada usia tersebut, potensi anak seharusnya sudah mulai dibangun, sehingga kemampuan atau keahlian anak akan berkembang dengan baik, dan itu merupakan aset negara yang sangat menguntungkan.
Dalam UU Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas pada pasal 28, dijelaskan ada 4 (empat) unsur yang harus dipenuhi dalam pengembangan anak usia dini yaitu:
  1. pembinaan anak usia dini merupakan pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun.
  2. pengembangan anak usia dini dilakukan melalui rangsangan pendidikan.
  3. pendidikan anak usia dini bertujuan untuk dapar membantu pertumbuhan dan pengembangan jasmani dan rohani (holistik).
  4. pengembangan dan pendidikan anak usia dini merupakan persiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Untuk bidang SDM dalam pengembangan PAUD ini dijabarkan dalam PP Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 29 yang menjelaskan bahwa standar minimal bagi Pendidik PAUD adalah D-IV atau Sarjana dengan latar belakang pendidikan PAUD, psikologi atau pendidikan lainnya yang telah bersertifikasi profesi guru untuk PAUD. Yang kesemuanya merupakan bentuk perhatian Pemerintah betapa pentingnya PAUD bagi bangsa.
Dilema Perkembangan PAUD di Indonesia
Menjamurnya pendidikan anak usia dini melalui pendidikan nonformal mengakibatkan tidak terkontrolnya penanganan terhadap anak-anak usia dini dengan baik, padahal masa emas tersebut merupakan masa-masa yang teramat penting dan tidak dapat datang untuk yang kedua kalinya dalam pembentukan otak, fisik dan jiwa seorang anak.
Saat ini pengembangan PAUD di Indonesia telah menimbulkan dilema, upaya untuk dapat memberikan pelayanan PAUD kepada setiap anak yang ada di Indonesia, akan tetapi banyak hal yang tidak dapat dipenuhi dengan semestinya. Dan ini bisa menyebabkan perkembangan anak yang tidak optimal sesuai dengan keinginan yang dituju, malah akan lebih membahayakan bila tidak ditangani secara cepat dan tepat karena semua ini berhubungan persiapan segenap potensi yang ada guna dapat membangun seorang insan manusia dalam mengarungi kehidupannya kelak.
Tantangan Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia
Sampai saat ini masi ada beberapa masalah yang dapat menghambat perluasan kesempatan dan pemerataan akses mengikuti PAUD serta peningkatan mutu PAUD serta peningkatan mutu PAUD di Indonesia, namun semua itu kita anggap sebagai tantangan yang menarik sehingga untuk mengatasinya diperlukan kreatifitas dan inovasi yang berkelanjutan.
Tantangan yang prioritas untuk diatasi antara lain :
  1. Jumlah anak yang belum mengikuti PAUD masih cukup besar.
  2. Sarana dan prasarana belajar secara kuantitatif maupun kualitatif masi terbatas
  3. Kompetensi sebagian besar guru PAUD masih belum memadai karena sebagian besar dari mereka tidak berasal dari latar belakang pendidikan PAUD dan mereka belum memperoleh pelatihan yang berkaitan dengan konsep dan ilmu praktis tentang PAUD.
  4. Perbedaan Angka Partisipasi Kasar (APK) peserta PAUD di daerah perkotaan dan perdesaan masih sangat besar.

Berbeda dengan Luar Negeri, PAUD di Indonesia memiliki keunikan khusus, karena di luar negeri PAUD pada umumnya hanya dibedakan menjadi 2 macam yaitu : Kindergarden atau Play Group dan Day Care, sedangkan di Indonesia menjadi 4, yaitu : 
  1. Taman Kanak-Kanak (Kindergarten)
  2. Kelompok Bermain (Play Group)
  3. Taman Penitipan Anak (Day Care)
  4. PAUD sejenis (Similar with Play Group)

Berbeda dengan negara lain dimana penyelenggaraan PAUD hanya untuk menstimulasi kecerdasan anak secara komprehensif dan pengasuhan terhadap anak, karena aspek kecerdasan yang dikembangkan hanya meliputi kecerdasan intelektual,  emosional, estetika, dan social serta pengasuhan. Di Indonesia potensi kecerdasan tersebut juga diberikan juga pendidikan untuk mengembangkan potensi kecerdasan spiritual yang dilaksanakan melalui pendekatan olah pikir, rasa, dan olahraga. Disamping itu, juga diberikan pengetahuan dan pembinaan terhadap kondisi kesehatan gizi peserta didik. Sehingga penyelenggaraan PAUD di Indonesia disebut juga penyelenggaraan PAUD secara "Holistik dan Integratif"

Referensi : 

Selasa, 05 April 2011

Tiga Fenomena Dengan Pembahasannya

Kelompok 19 :
  1. Jilly Chandra ( 10-022 )
  2. Veronica ( 10-026 )
  3. Venti Ayu Wibawa ( 10-070 )
  4. Dede Suhendri ( 10-078 )
Tiga fenomena yang kami bahas adalah:
  1. Fenomena Tawuran Antar Pelajar
  2. Kasus Perilaku Pelanggaran Disiplin Siswa di Sekolah
  3. Fenomena Kekerasan di Lembaga Pendidikan
Fenomena 1
Pada artikel ini, diceritakan bahwa perkelahian antar pelajar yang umumnya remaja sangat merugikan baik bagi pelajar maupun orang berada di sekitar lokasi tawuran. Hal ini terjadi hanya karena hal sepele, yaitu dicetaknya gol oleh pemain X yang tidak disenangin 1 suporter yang mendukung tim Y.

Teori Psikologi Pendidikan
Teori konstruktivisme  adalah pendekatan untuk pembelajaran yang menekankan bahwa individu akan belajar dengan baik apabila mereka secara aktif mengkonstruksi pengetahuan dan pemahaman. Supporter yang tidak senang tidak memahami proses ini. Dia tidak senang tim yang dia dukung kalah, sehingga menjadi dendam, Padahal di setiap pertandingan harus ada yang menang dan yang kalah. Dengan kata lain, supporter tidak memahami dengan pasti apa yang harus dan tidak harus dilakukannya.

Teori Pendidikan Keluarga
Berdasarkan teori pendidikan keluarga, supporter mungkin tidak dibina dengan baik dari kecil. Orang tua dalam keluarga harus bisa menciptakan suasana keluarga yang damai dan tentram dan mencurahkan kasih sayang yang penuh terhadap anak-anaknya, meluangkan waktunya untuk sering berkumpul dengan keluarga, mengawasi proses-proses pendidikan anak dan melakukan tugas masing-masing ayah dan ibu. Kurangnya keenam hal ini dapat menyebabkan penyimpangan pada anak, seperti dendam yang dialami supporter tersebut.

Teori Bimbingan sekolah
Salah satu teori gestalt adalah Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Artinya bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. Supporter membuat perilaku tawuran agar orang lain dapat mengalah, sehingga tim yang didukung supporter menang.

Fenomena 2
Yang menjadi subjek dalam pembahasan atau analisis permasalahan ini adalah siswa yang sering melakukan pelanggaran disiplin sekolah. Selanjutnya jika dikaji dari data tentang siswa yang sering melakukan pelanggaran sekolah, ternyata dikemukakan bahwa umumnya siswa yang sering membolos sekolah juga melakukan pelanggaran disiplin lain, misalnya sering terlambat datang ke sekolah, meninggalkan kelas atau sekolah sebelum waktunya, suka mengganggu teman, sering melalaikan tugas sekolah, dan berpakaian tidak rapi.

Teori Psikologi Pendidikan
Berdasarkan teori psikologi pendidikan, selain peranan motivasi, manajemen kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan belajar murid. Kelas adalah multidimensional, sebuah seting untuk banyak aktivitas. Kurangnya manajemen kelas dapat menyebabkan murid malas belajar, bosan dan melakukan hal-hal lain.

Teori Pendidikan Keluarga
Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan awal bagi anak karena pertama kalinya mereka mengenal dunia terlahir dalam lingkungan keluarga dan dididik oleh orang tua. Sehingga pengalaman masa anak-anak merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan selanjutnya, keteladanan orang tua dalam tindakan sehari-hari akan menjadi wahana pendidikan moral bagi anak, membentuk anak sebagai makhluk sosial, religius, untuk menciptakan kondisi yang dapat menumbuh kembangkan inisiatif dan kreativitas anak. Orang tua yang buruk akan menghasilkan perilaku anak yang buruk pula.

Teori Bimbingan Sekolah
Berdasarkan teori Gestalt, pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) adalah kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang bermakna akan membuat murid tidak cepat bosan, dan tidak melakukan hal lain pada waktu pembelajaran berlangsung.

Fenomena 3
Secara umum, kekerasan dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang tidak menyenangkan atau merugikan orang lain, baik secara fisik (pemukulan menggunakan tangan atau alat, penamparan, dan tendangan) maupun psikis (mengejek atau menghina, mengintimidasi, menunjukkan sikap atau ekspresi tidak senang, dan tindakan atau ucapan yang melukai perasaan orang lain). Kekerasan tidak hanya berbentuk eksploitasi fisik semata, tetapi justru kekerasan psikislah yang perlu diwaspadai karena akan menimbulkan efek traumatis yang cukup lama bagi si korban. Dewasa ini, tindakan kekerasan dalam pendidikan sering dikenal dengan istilah bullying.

Pada kenyataannya, praktik bullying ini dapat dilakukan oleh siapa saja, baik oleh teman sekelas, kakak kelas ke adik kelas, maupun bahkan seorang guru terhadap muridnya. Terlepas dari alasan apa yang melatarbelakangi tindakan tersebut dilakukan, tetap saja praktik bullying tidak bisa dibenarkan, terlebih lagi apabila terjadi di lingkungan sekolah.

Teori Psikologi Pendidikan
(Behaviorisme)Teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan. Sedangkan pada kasus diatas, perlakuan yang diberikan oleh senior kepada juniornya, malah merangsang junior belajar untuk melakukan hal yang sama. INi adalah suatu pembelajaran, pembelajaran ke arah negatif karena ia merasa perlakuan ini adalah warisan turun temurun sehingga merupakan perlakuan yang harus dilakukan.

Teori Pendidikan Keluarga
Berdasarkan teori pendidikan keluarga, kekerasan yang dilakukan oleh pelajar pada teman-temannya, juga merupakan suatu perilaku merupakan efek dari lingkungan keluarganya. Perhatian yang kurang dari orang tua juga adalah salah satu faktor yang mengakibatkan pelajaran melakukan hal-hal kasar di lingkungan tempat dia berada, tujuannya untuk menarik perhatian orang sehingga ia akan merasa diperhatikan oleh orang sekitarnya. Selain itu, perlakuan kasar juga dapat berasal dari perlakuan yang ia terima di rumah, sehingga pelajar tersebut merasa bahwa perlakuan kasar merupakan suatu hal yang wajar.

Teori Bimbingan Sekolah
Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Disini, pelajar salah atau gagal menerapkan prinsip insight ini, sehingga anggapan atau persepsi mereka tentang perlakuan kasar tersebut tidak sesuai dengan yang ada dimasyarakat. Seperti yang dilakukan pelajar tersebut, mereka melakukan kekerasan pada temannya, karena mereka telah salah mengaitkan perilaku yang kasar tersebut dengan kondisi saat ia melakukannya.

Kasus:

Referensi:
Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group

Selasa, 15 Maret 2011

INTELIGENSI

Inteligensi adalah keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi pada, dan belajar dari, pengalaman hidup sehari-hari.

Binet mengembangkan konsep mental age (MA) atau usia mental, yakni  level perkembangan mental individu yang berkaitan dengan perkembangan lain. William Stern mengembangkan konsep intelligence quotient (IQ), yaitu usia mental seseorang dibagi dengan usia kronologis, dikalikan 100.
 IQ = MA/CA x 100


Terdapat 8 kerangka pikiran Gardner :
1. keahlian verbal : kemampuan untuk berpikir dengan kata dan menggunakan bahasa dengan sangat baik
2. keahlian matematika : kemampuan untuk menyelesaikan operasi matematika
3. keahlian spatial : kemampuan untuk berpikir tiga dimensi
4. keahlian tubuh-kinestetik : kemampuan untuk memanipulasi objek dan cerdas dalam hal-hal fisik
5. keahlian musik : sensitif terhadap nada, melodi, irama, dan suasana
6. keahlian intrapersonal : kemampuan untuk memahami diri sendiri dan menata kehidupan dirinya secara efektif
7. keahlian interpersonal : kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain
8. keahlian naturalis : kemampuan untuk mengamati pola-pola di alam dan memahami sistem alam dan sistem buatan manusia

Emotional Intelligence
Menurut Peter Salovy dan John Mayer, emotional intelligence adalah kemampuan untuk memonitor perasaan diri sendiri dan perasaan serta emosi orang lain, kemampuan untuk membedakannya dan kemampuan untuk menggunakan informasi ini untuk memandu pemikiran dan tindakan dirinya.
Konsep emotional intelligence oleh Daniel Goleman  : dapat memprediksi kompetensi seseorang, IQ seperti yang diukur dengan tes kecerdasan ternyata tidak lebih penting dari kecerdasan emosional. Emotional intelligence terdiri dari 4 area :
1. developing emotional awareness : kemampuan untuk memisahkan perasaan dengan tindakan
2. managing emotions : mampu mengendalikan amarah
3. reading emotions : memahami perspektif orang lain
4. handling relationship : kemampuan untuk memecahkan problem hubungan

Daftar Pustaka :
Santrock, John W. 2007 . Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta : Prenada Media Group.

Belajar Jarak Jauh ( Distance Learning)

Belajar Jarak Jauh (BJJ) adalah bentuk pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan modul yang tercetak yang digunakan untuk korespondensi dan pembelajaran berbasis (TIK), seperti televisi, radio dan komputer serta internetnya. Misalnya : berhubungan dengan print, CD, Video, TV interaktif atau internet. Sehingga, pendidik harus tahu media terbaik yang digunakan untuk matero pelajaran dan tingkat kemampuan teknologi yang dapat diakses. 
Prinsip BJJ :
1. Tujuan yang jelas
2. Relevan dengan kebutuhan
3. Mutu pendidikan
4. efisiensi dan efektivitas program
5. efektifitas
6. pemerataan
7. Kemandirian
8. Keterpaduan
9. Kesinambungan


Kelebihan BJJ :
a. menjangkau target yang ditentukan
b. memberikan kesempatan yang luas dalam rangka pelayanan terhadap perbedaan individual peserta didik
c. tidak membutuhkan ruangan kelas yang khusus
d. tidak memerlukan guru khusus yang bertugas mengajar
e. bahan belajar sudah disiapkan oleh pengelola
f. memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk lebih aktif
g. lebih efisien dan ekonomis
h. pengembangan kurikulum didasarkan pada kebutuhan lapangan


Kelemahan BJJ :
a. waktu dan biaya yang diperlukan cukup banyak
b. memerlukan motiovasi belajar yang tinggi
c. tidak dapat berinteraksi dan berkomunikasi langsung dengan pengajar 
d. bahan yang disajikan kurang relevan dengan kebutuhan peserta didik setempat atau kepentingan peserta   didik


Daftar Pustaka :
Munir. (2008). Kurikulum berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Bandung: Alfabeta

Selasa, 01 Maret 2011

E-Learning dan Learner-Centered

Jilly Chandra (10-022)
Veronica (10-026)
Venti Ayu Wibawa (10-070)
Dede Suhendri (10-078)

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari dikti.go.id, peserta didik di zaman informasi ini mempunyai kecenderungan gaya belajar aktif, sequential, sensing, dan visual (Felder dan Soloman, 1993). Generasi muda sekarang sudah mempunyai istilah baru, yaitu "Generasi Z", yaitu generasi yang sudah mahir menggunakan teknologi zaman ini. Kita, sebagai generasi Z ini, harus menggunakan proses learner centered daripada teacher centered yang biasa digunakan di masa sekolah. Untuk menggunakan proses pembelajaran seperti ini, harus ada sebuah penyesuaian, sehingga peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Perlunya penyesuaian karena metode pembelajaran teacher-centered berbeda dengan learner-centered. Peserta didik dituntut untuk lebih aktif pada proses pembelajaran, sedangkan pembimbing hanyalah menjadi mediator. Proses pembelajaran ini seharusnya telah diterapkan semasa di sekolah, tepatnya pada SMA, sehingga siswa maupun mahasiswa siap untuk terjun ke lapangan kerja.

E-learning merupakan salah satu learner centered. Bayangkan kalau e-learning merupakan teacher-centered, maka pembimbing akan ceramah, sedangkan kita tidak tahu apakah peserta didik mengikuti pembelajaran atau tidak. Jadi, learner centered membuat peserta didik tidak akan bosan karena hanya duduk mendengarkan/membaca penjelasan guru di dalam kelas.

Teacher vs Learner Centered Instruction

Teacher vs. Learner-Centered Instruction

Teacher-Centered
Learner-Centered
Focus is on instructorFocus is on both students and instructor
Focus is on language forms and structures (what the instructor knows about the language)Focus is on language use in typical situations (how students will use the language)
Instructor talks; students listenInstructor models; students interact with instructor and one another
Students work aloneStudents work in pairs, in groups, or alone depending on the purpose of the activity
Instructor monitors and corrects every student utteranceStudents talk without constant instructor monitoring; instructor provides feedback/correction when questions arise
Instructor answers students’ questions about languageStudents answer each other’s questions, using instructor as an information resource
Instructor chooses topicsStudents have some choice of topics
Instructor evaluates student learningStudents evaluate their own learning; instructor also evaluates
Classroom is quietClassroom is often noisy and busy

Berdasarkan perbedaan dua instruksi diatas, saya melihat dalam perkuliahan sekarang ini, lebih diterapkan metode learner-centered. Dan saya rasa metode ini cukup efektif daripada metode teacher-centered, karena menuntut kita untuk lebih aktif dan mempersiapkan materi sebelum kuliah berlangsung.
Tetapi bagi anak-anak yang masi dalam tingkat SD, saya rasa metode teacher-learner akan lebih baik.

Sumber :  Teacher vs Learner Centered Instruction